anies baswedan

Berita Indonesia Saking kebeletnya Anies Baswedan yang sangat bernafsu ingin jadi Gubernur DKI, maka segala macam cara ia halalkan yang penting tujuannya tercapai. Kini yang jadi korban nama dicatut Anies Baswedan adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

Anies mengklaim bahwa subsidi keuangan dari Pemprov DKI ke LBH Jakarta dipangkas Ahok karena menurut asumsinya Anies Baswedan sendiri bahwa LBH Jakarta sering menghalangi penggusuran.

Seperti diketahui banyak subsidi LBH yang dipotong. Karena berdasarkan assessment, mereka lebih banyak menghalangi penggusuran,” kata Anies dengan tanpa beban telah catut-catut nama orang, Selasa 14 Maret 2017.

Anies pun menjanjikan bahwa jika ia terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta, maka ia akan memberikan tambahan suntikan dana segar kepada LBH Jakarta.

Dengan segala pedenya, Anies Baswedan bilang bahwa subsidi yang akan ia berikan nantinya ke LBH Jakarta harus fokus untuk membantu mengadvokasi warga kelas menengah ke bawah. Terutama dalam memperoleh legalitas atas hak-hak mereka.

Alih-alih mendapat pujian dan sanjungan dari LBH Jakarta, justru Anies dikecam habis-habisan oleh LBH Jakarta yang tidak terima nama mereka dicatut demi kepentingan politik Anies.

Lembaga Bantuan Hukum Jakarta keberatan nama mereka dicatut Anies Baswedan yang menjanjikan akan memberikan tambahan dana kepada LBH Jakarta jika Anies menang jadi Gubernur DKI Jakarta.

Direktur LBH Jakarta, Alghiffari Aqsa meminta dengan tegas kepada Anies Baswedan agar tidak jual-jual nama LBH Jakarta demi kepentingan politiknya yang terselubung.

Alghiffari Aqsa menegaskan bahwa LBH Jakarta adalah organisasi yang netral dan tidak berpihak kepada calon manapun dalam politik, termasuk dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Bahkan LBH Jakarta sama sekali tidak mengetahui dugaan adanya pemangkasan anggaran untuk LBH Jakarta karena keterlibatannya dalam mengadvokasi kasus penggusuran sesuai dengan klaimnya Anies Baswedan tersebut.

Yang konyolnya lagi, Anies mengaku telah berkomunikasi dengan LBH Jakarta dan berpesan agar LBH lebih concern memberikan bantuan hukum untuk kasus yang melibatkan korban perempuan.

LBH Jakarta pun langsung mengklarifikasi dan menegaskan bahwa Anies Baswedan tidak pernah berkomunikasi dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta untuk membicarakan mengenai anggaran bantuan hukum.

Blunder Anies Baswedan yang jual-jual namanya LBH Jakarta justru hanya menunjukkan kapasitasnya yang tidak punya malu menghalalkan segala cara demi nafsunya ingin jadi Gubernur DKI Jakarta.

Kalau mau bertarung, mbok ya bertarunglah dengan jujur dan sportif. Jangan catut-catut nama orang atau lembaga dengan sembarangan dan serampangan.

Tidak usah aneh-aneh dan lebay tingkat dewa, yang wajar-wajar saja. Kalau bisanya hanya catut nama orang demi kepentingan terselubung, orang bego juga akan tahu ada udang dibalik rempelo.

Masalah catut mencatut nama orang bukan hal yang baru bagi Anies Baswedan. Anies pernah mencatut nama Ulama Sepuh NU Kyai Maimoen Zubair dukung dirinya. Kyai Maimoen Zubair adalah ulama kharismatik NU yang mengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Lasem, Rembang.

Anies mengklaim bahwa Kyai Maimoen Zubair mendukung dirinya. Padahal Kyai Maimoen Zubair tidak memiliki kepentingan terhadap Pilkada DKI. Pencatutan nama Kyai Maimoen sangat memalukan dan telah mencemari nama besar ulama NU, Kyai Maimoen.

Selain mencatut nama besar Ulama NU, Kyai Maimoen Zubair, Anies Baswedan juga pernah mencatut nama Nasdem bahwa parpol itu mendukung dirinya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Anies mengklaim bahwa partai Nasdem DKI Jakarta telah mendeklarasikan dukungan terhadap dirinya dengan mendatangi langsung rumah pemenangan Anies-Sandi yang berada di Jalan Panglima Polim IX, Jakarta Selatan.

Dengan segala liciknya, Anies mengklaim bahwa ada 10 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Nasdem se-Jakarta Timur yang menyatakan dukungan terhadap dirinya.

Mereka berasal dari kecamatan Jatinegara, pasar Rebo, Cakung, Duren Sawit, Pulogadung, Matraman, Kramatjati, Ciracas, Kecamatan Makasar, dan Kecamatan Cipayung.

Akibatnya, Partai Nasdem pun berang, lalu melaporkan Anies Baswedan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta karena telah melakukan penyesatan publik.

Prilaku tidak etisnya Anies Baswedan ini jelas-jelas menunjukkan bobroknya karakter diri Anies Baswedan yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan dirinya sendiri. Mau jadi apa Jakarta ini jika dipimpin oleh Sengkuni yang nekat memghalalkan segala cara demi kepentingannya tercapai?

 

Baca Juga : Prediksi PS PCSO

 photo banner-tiger-toto_zps8yelpyp5.gif