wakil-ketua_20161012_132209

Berita Indonesia  Kita tentu ingat dengan sosok Muhammad Taufik yang sebelumnya kerap melakukan tindakan kontroversi. Sebagai Wakil Tim kemenangan Anies-Sandi, kali ini beliau mengeluarkan statement yang saya pikir bisa menjadi blunder untuk kubu Anies-Sandi. Simak informasi berikut.

Wakil Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi, Mohamad Taufik, menilai bahwa perangkat warga RT/RW yang masih dukung Ahok harus berpikir ulang.

Taufik menilai bahwa Ahok merupakan pemimpin yang tidak peduli dengan keberadaan RT/RW di Jakarta.

“Kalau ada RT/RW yang masih dukung Ahok, harus diperiksa kesehatannya,” kata Taufik pada deklarasi dan apel siaga RT dan RW untuk TPS di Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (26/3/2017) siang.

Menurut Taufik, pengurus RT dan RW tidak punya alasan lagi untuk dukung Ahok dan pasangannya, Djarot Saiful Hidayat, sebagai calon petahana.
Dia mengimbau kepada para pengurus RT/RW untuk dukung Sandi bersama Anies, dengan janji perhatian dan dukungan penuh bagi RT dan RW.

Dalam kesempatan yang sama, Taufik menargetkan Anies-Sandi memeroleh suara signifikan di Ciracas pada putaran dua Pilkada DKI Jakarta, 19 April 2017 mendatang.

Taufik juga meminta kader parpol pengusung Anies-Sandi serta relawan aktif melaporkan dugaan kecurangan yang didapati di lapangan saat pencoblosan nanti.

Pembaca seword.com saya rasa sudah paham dengan maksud kata “kesehatan”. Jadi M. Taufik jika disederhanakan akan mengatakan bahwa perangkat RT/RW yang memilih Ahok adalah orang yang tidak waras sehingga kesehatan mentalnya harus diperiksa. Kira-kira seperti itu.

Saya jadi teringat kata-kata Fahri Hamzah saat mengatakan Hari Santri itu sinting. Saat itu, ribuan santri di Indonesia kecewa dengan pernyataan Fahri dan hal ini yang membuat mereka berpaling dari Prabowo dan kemudian memilih Jokowi.

Dengan mengatakan bahwa perangkat RT/RW yang memilih Ahok perlu diperiksa kesehatannya, M. Taufik bisa menjadi salah satu penyebab kalahnya Anies-Sandi di putaran dua. Mudah-mudahan banyak perangkat RT/RW yang tersinggung dengan ucapan M. Taufik sehingga kemudian tidak jadi memilih Anies-Sandi. Hehe

Pernyataan M. Taufik memang tidak etis dikatakan oleh seorang Politikus. Hanya demi memenangkan Anies-Sandi, M. Taufik harus berkata yang tidak sopan dan menjudge gila kepada RT/RW yang masih memilih Ahok.

Saya amati sejak Pilpres 2014, kubu Gerindra atau PKS keras mengeluarkan statement-statement yang rasis dan menyinggung serta tidak elok didengar. Mereka juga yang kerap membuat dukungan Gerindra dan FPI itu kalah.

Sekarang kita kaji alasan M. Taufik yang mengatakan bahwa Ahok tidak peduli dengan RT/RW sehingga jika masih ada yang memilih Ahok dianggap perlu diperiksa kesehatanya.

Benarkah Ahok tidak peduli dengan RT/RW? Kepedulian seperti apa yang dikehendaki oleh M. Taufik?

Ahok memang tidak sembarangan mengeluarkan dana untuk pegawai yang etos kerjanya rendah. Ahok akan mengapresiasi dengan memberikan bonus kepada pegawai yang memiliki etos kerja tinggi.

Ahok mengatakan, Ketua RT/RW harus memiliki tanggung jawab atas insentif yang mereka terima tiap bulan. Salah satu bentuk tanggung jawabnya adalah dengan melaporkan kondisi lingkungan melalui aplikasi Qlue

“Jadi, begini, RT/RW itu minta gaji operasional dari APBD. Makanya, kita bilang, insentif ini harus ada tanggung jawabnya. Tanggung jawabnya apa? Lalu, kita bilang, Anda mesti laporkan kondisi (lingkungan setempat) dong,” kata Ahok.

Tiap bulannya, ketua RT mendapat insentif sebesar Rp 975.000 dan ketua RW mendapat Rp 1,2 juta. Menurut Ahok, mereka dipilih menjadi ketua RT dan RW karena dianggap memiliki hati untuk mengurusi lingkungannya.

Jika ada masalah di lingkungan itu, Ahok mewajibkan mereka lapor melalui Qlue sehingga dapat diketahui satuan kerja perangkat daerah (SKPD) mana yang tidak bekerja dengan baik.

“Kalau kamu enggak pengin berbuat ini, kamu jangan jadi (ketua) RT/RW. Ya sudah jadi RW relawan saja. Enggak pantas terima APBD,” kata Ahok

Sebelumnya, puluhan pengurus RT dan RW mengancam akan mundur jika tetap dipaksa untuk membuat laporan via Qlue  setiap hari. Mereka mengadu kepada Komisi A DPRD DKI Jakarta. Bahkan, mereka mengancam akan memboikot Pilkada DKI Jakarta 2017.

Tiap aduan Qlue dihargai Rp 10.000. Qlue merupakan aplikasi Pemprov DKI untuk wadah penampung semua kepentingan warga.

Warga dapat mengadukan semua kejadian, seperti macet, jalan rusak, banjir, penumpukan sampah, hingga pelayanan yang tak maksimal di DKI dan rumah sakit lewat tulisan ataupun foto.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal, Kepedulian macam apa yang dikehendaki oleh M. Taufik? Apa yang dimaksud peduli adalah memberikan dana tiap bulan kepada RT/RW tanpa harus bekerja?

Jujur saya bingung dengan pola pikir M. Taufik. Ahok sedang memberikan pendidikan kepada RT/RW untuk bekerja secara maksimal jika memang ingin diberi gaji per bulannya. Di RT/RW lain di luar Jakarta bahkan ada yang tidak digaji. Ahok siap memberikan gaji kepada RT/RW jika memang mau bekerja sama membangun Jakarta salah satunya dengan cara melaporkan kejadian melalui aplikasi Qlue.

Untuk membayar gaji RT.RW berasal dari APBD. Jika RT/RW digaji tanpa tanggung jawab tentu akan sangat merugikan Jakarta. Ahok sedang mendidik RT/RW agar bekerja dengan maksimal ikut membangun Jakarta. Untuk intensif Ahok siap menyediakan. Saya rasa sangat wajar ketika ada orang yang menuntut gaji, maka konsekuensi logisnya dia harus melakukan pekerjaan sesuai permintaan yang memberi gaji.

Mudah-mudahan dengan statement M. Taufik membuat RT/RW sadar bahwa pemimpin harus dipilih adalah pemimpin yang tidak hanya memberikan iming-iming manis serta pemimpin yang mendidik warga untuk ikut serta membangun Jakarta.

Baca Juga : Prediksi PS PCSO

 photo banner-tiger-toto_zps8yelpyp5.gif